Aqidah

Pendidikan Islam Untuk Seluruh Alam

Bissmillaah. Setelah tiga tahun ayat-ayat Al-Quran turun dari mulai ayat 1 surat ke-1 sampai surat ke-54 di Mekkah Al-Mukaromah. Kemudian turunlah ayat  perintah dari Allaah agar umat Islam menyampaikan risalah Islam secara terang-terangan. Allaah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

  فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ

Artinya: “Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.” [Qs. Al-Hijr/15 : 94].

Pada periode proses pendidikan Islam yang berlangsung secara terang-terangan di Mekkah terjadi pergolakan antara kaum musyrikin dengan muslimin. Ketika itu kaum musyrikin tidak mau menerima seruan ajaran Islam yang mengajak kembali pada menyembah Allaah Yang Maha Esa. Sehingga kekerasan dari kaum Quraisy yang musyrik di Mekkah akhirnya meledak ingin selalu menumpas ajaran Islam yang disebarkan oleh Rasulullaah Muhammad Saw dan para pengikutnya.

Ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullaah Saw semakin berkembang progresif seiring dengan bertambahnya ayat-ayat yang turun dan bertambahnya pengikut Nabi Saw yang bertakwa kepada Allaah. Seperti bertambahnya satu keluarga mulia, yakni Keluarga Yasir Radhiyallaahu ‘Anhum yang terdiri atas Yasir, Sumayah Ummu Ammar dan Ammar bin Yasir, dimana Yasir dan Sumayah adalah pasangan suami isteri yang syahid pertama kali di bumi Makkah.

Selama berada di masa pengajaran dan pendidikan Islam yang terbuka, terjadi fase Hijrah pertama ke Habasyah (Abyssinia; sekarang Ethiopia) agar para muslim berpindah ke wilayah kekuasaan rajanya, An-Najasyi (Negus) pada tahun 615 M dengan jumlah rombongan pertama yakni 10 orang dipimpin oleh Utsman bin Madz’un. Mereka keluar di malam hari menyusuri jalan berbukit dan mengarah ke pantai tempat berlabuhnya perahu-perahu. Kemudian mereka pun berlayar menuju Habasyah.

Selama adanya penyiksaan dan terror terhadap kaum muslimin di Mekkah, terjadilah sebuah penambahan kekuatan atas rahmat Allaah Azza wa Jalla. Akhirnya Hamzah bin Abdul Muthalib dan Umar ibn Khathab masuk Islam.

Proses penyampaian ajaran Islam kepada Hamzah berlangsung seperti terangnya ajakan masuk Islam dari Rasulullaah Saw kepada keluarga ayahnya atau Bani Muthalib. Hamzah mengalami rasa empati yang memuncak saat ia melihat penindasan yang dialami keponakannya, Muhammad Saw sampai Hamzah memutuskan untuk mengambil posisi tegas menjadi seorang muslim yang mendukung upaya penyebaran ajaran Islam.

Sedangkan proses tersampaikannya ajaran Islam kepada Umar bin Khathab adalah ketika ia sedang berjalan dengan cepat sambil membawa pedang terhunus untuk membunuh Nabi Muhammad Saw, dimana diinformasikan bahwa Nabi Saw tengah berkumpul dan mengadakan pengajaran Islam di sebuah rumah di wilayah Shafa. Tapi di tengah perjalanan ada Nu’aim bin Abdullah yang heran dengan berjalannya Umar sambil membawa pedang itu. Kemudian Nua’im menegur Umar dan memberi informasi bahwa Fatimah bin Khathab, adik kandung Umar sendiri sudah masuk Islam. Maka merahlah wajah Umar, kemarahannya lebih membara pada adiknya, sehingga ia pergi ke rumah adiknya dan terdengarlah kegiatan pembacaan sesuatu yang belum pernah ia dengar di rumah Fatimah dan adik iparnya, Sa’id bin Zaid. Lalu Umar bin Khathab meminta Fatimah membuka pintu rumahnya, sontak Fatimah dan Sa’id pun kaget, sementara keduanya sedang belajar tentang surat Thaha bersama Khabbab bin Al-Arat di dalam rumah itu. Akhirnya Khabbab bersembunyi, sementara Fatimah dan Sa’id menghadapi Umar sampai akhirnya Sa’id dipukul Umar, dan saat Fatimah membela Said, maka Umar pun menampar wajah Fatimah sampai  bibirnya berdarah. Umar tersadar melihat adiknya terluka akibat tamparannya, ia merasa bersalah dan kemudian menghentikan kekerasannya.

Saat situasi di rumah Fatimah berangsur dingin, Umar pun bertanya tentang apa yang dibaca dan terdengar olehnya, sehingga Fatimah pun memberikan lembaran bertuliskan surat Thaha kepada Umar. Dan Umar pun berusaha membacanya.

Singkat cerita, Khabbab bin Al-Arat keluar dari persembunyiannya dan menemui Umar seraya mengatakan bahwa Muhammad Saw telah memohon kepada Allah agar Islam diperkuat oleh Abul Hakam bin Hisyam atau Umar bi Khathab. Maka, Umar pun dengan seksama memahami perkataan Khabbab itu dan menanyakan dimana tempat Nabi Saw berada.

Umar kembali menghunus pedangnya dan pergi ke wilayah Shafa mencari Nabi Muhammad Saw. Umar pun mendobrak pintu tempat Nabi Saw berada dengan sekira 40 orang sahabat dan sahabiah yang tengah mempelajari Islam. Akhirnya para sahabat pun bersiap siaga menyongsong Umar yang bisa jadi akan berbuat onar. Namun Nabi Saw menenangkan para sahabatnya, termasuk pamannya, Hamzah yang hadir pula di sana. Akhirnya Nabi Saw berusaha mendahului Umar dan menyergapnya, lalu beliau Saw menanyakan perihal  tujuan kedatangan Umar. Dan Umar bin Khathab pun berkata, “Wahai Rasulullaah, aku datang kepadamu untuk beriman kepada Allaah, Rasul-Nya, serta apa saja yang engkau bawa dari Allaah.”

Dengan demikian Rasulullaah Saw pun bersyukur kepada Allaah dan mengucap takbir sehingga terdengar oleh para sahabatnya di rumah pendidikan wilayah Shafa tersebut. Alhamdulillaah.

Sesungguhnya, masuknya ajaran kepada diri manusia terjadi karena kehendak Allaah Tabaraka wa Ta’aala yang menjadikan manusia dapat menerima konsep, fakta, teori, prinsip, atau aneka muatan pesan yang disampaikan melalui pengajaran.

Ajaran Islam berupa pesan syahadat; persaksian atas Allaah sebagai Tuhan Yang Maha Esa dan Muhammad adalah utusan-Nya itu diterima Hamzah dengan mudah. Kemudian ajaran Islam berupa penyampaian kalamullaah, yaitu surat Thaha yang tertulis pada lembaran yang dibacanya tanpa kaidah tilawah Al-Quran, pada akhirnya dapat dipahami Umar sebagai suatu hal yang tidak pernah ia jumpai sebelumnya. Terlebih lagi saat ia mendengarkan tilawah nan indah, dan ia pun sebelumnya dido’akan oleh Rasulullaah Saw agar masuk Islam dan memperkuat penyampaian ajaran Islam, maka proses sampainya ajaran Islam kepada Umar sangatlah kompleks. Sebuah skenario dari Allaah Al-Latif yang Maha Kuasa membuat setiap detail peristiwa. Alhamdulillah. [rd]

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s