Manajemen PAUD Islami (Bagian 1)

oleh

Ridza Gandara

PENDAHULUAN

Alhamdulillaah, di Indonesia, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) diperuntukkan bagi anak usia lahir sampai enam tahun. Layanan kemanusiaan ini adalah termasuk pendidikan untuk anak usia empat hingga enam tahun. Pelaksanaan layanan ini adalah kewajiban dan tantangan bagi para pendidik, sekaligus sebuah sarana ibadah kepada Allaah dengan cara menjalankan fungsi pokok sebagai pendidik anak, yakni mendidik, mengasuh, merawat, menjaga, mengajar, melatih dan memfasilitasi tugas perkembangan anak dari mulai awal mereka tak bisa sendiri hingga akhirnya mandiri.

Tujuan PAUD untuk anak usia dua sampai enam tahun dalam satu periode tahun pelajaran dapat dikenali menjadi beberapa bagian yaitu:

1.    Anak didik mampu menampilkan perilaku yang mencerminkan kepribadiannya sebagai muslim yang beriman kepada Allaah Swt dan Rasulullah Saw.

2.    Anak didik dapat melakukan kegiatan dengan fungsi gerak motorik kasar dan motorik halus sebagai bekal kecakapan hidup muslim yang terdidik dalam lingkungan pendidikan Islam.

3.    Anak didik memiliki ciri kesehatan fisik yang ideal sesuai antara usia, tinggi badan, berat badan dan pola hidup sehat. Sehingga fisik anak layak mendapat penilaian gizi baik, sehat jasmani dan rohani.

4.    Anak didik dapat menampilkan hasil cerna proses belajar wawasan umum, pengetahuan alam dan sosial, konsep bentuk, ukuran, pola dan warna, konsep lambang bilangan dan huruf yang sangat sederhana dan konkret sesuai tingkat perkembangan dirinya.

5.    Anak didik mampu menerima bahasa, mengungkapkan bahasa, dan menggambarkan simbol bahasa dengan kemampuan yang ada pada dirinya untuk melakukan proses belajar diri dan bersosialisasi.

Setiap poin tujuan PAUD Islami dari nomor 1 sd 5, insya Allaah sudah sangat jelas dan tegas disesuaikan dengan tingkat perkembangan diri anak, yakni sesuai dengan perkembangan anak usia 2 – 6 tahun. Tidak ada paksaan dalam berkembang, semuanya sudah sesuai dengan takdir Allaah Subhaanahu wa Ta’aala, maka pendidik hanya bertugas ikhtiar merencana, mengasuh, merawat, membimbing, mengajar, sampai menilai untuk kebaikan sistem mendidik yang dicontohkan oleh Allaah, Rasulullaah Saw dan ulama.

Sumber: Buku “Mewujudkan PAUD Impian”; Ridza Gandara

PRAKTIK LANGSUNG

Pertama, awali dengan merencanakan tujuan pendidikan Islam pada PAUD dengan cara menginventarisir sebanyak mungkin ciri-ciri kepribadian muslim atau karakter muslim yang diridhoi Allaah.

Dalam mendidik anak dengan cara Islam untuk mencapai tujuan pendidikan Islami, maka perlu kita kenali ciri-ciri anak-didik yang pada akhirnya harus segera merasakan tujuan pendidikan masa kini dan harus bisa diproyeksikan kecenderungannya untuk merasakan tujuan pendidikan masa datang. Ada tujuan pendidikan yang tercepat untuk dicapai dan ada pula tujuan pendidikan yang sifatnya cukup diarahkan karena waktunya masih panjang ke masa depan anak didik, baik di kehidupan dunia dan akhiratnya.

Misalnya dalam forum curah pendapat yang formal dikumpulkan sifat-sifat mulia para nabi dan rasul, termasuk kepribadian Rasulullaah Saw yang menjadi tauladan terbaik, sebagaimana Allaah telah menyatakan dalam surah Al-Qolam ayat 4: “Artinya: Sungguh, kamu mempunyai akhlak yang agung” dan surah At-Taubah ayat 128: “Artinya : Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, yang berat memikirkan penderitaanmu, sangat menginginkan kamu (beriman dan selamat), amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu’min.”

Kemudian kumpulkan sifat-sifat baik dari para sahabat Rasulullaah Saw, baik dari kalangan laki-laki (shahabat) dan perempuan (shahabiat), serta semua orang yang mengikuti pola sifat kebaikan mereka. Hal ini sangat sudah dijelaskan oleh Allaah dalam surah At-Taubah ayat 100: “Artinya: Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allaah rihda kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allaah. Allaah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung”. Dan pada surah Fushilat ayat 30:  ” Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang berkata,”Tuhan kami adalah Allaah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata),”Janganlah kamu merasa takut, dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu”.

Ada banyak ayat-ayat Al-Quran yang menggambarkan siapa nabi dan rasul, siapa sahabat dan pengikut mereka yang semuanya sama; beramal baik karena Allaah.

Contohnya kita hendak mengambil sifat-sifat nabi yang diungkapkan dalam Al-Quran, misalnya pada surah Al-Ahzab ayat 21 berikut.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullaah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allaah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allaah.”

Coba diambil sifat yang dapat ditumbuhkan pada diri anak usia 4-5 tahun misalnya “meneladani sifat Rasulullaah Saw”, “mengharap rahmat Allaah” (berdo’a), dan “banyak menyebut Allaah” (berdzikir).

Berikutnya kita ambil analisis pada surah Al-Hijr ayat 89 berikut.

“Dan katakanlah, ‘sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan dengan bukti-bukti yang nyata.”

Sifat seorang yang mampu “menjelaskan peringatan dengan bukti nyata” ini tanda cerdas (fathonah) pada Rasulullaah Saw yang di-tarbiyyah atau dididik oleh Allaah Subhaanahu wa ta’aala. Sehingga pelajaran (ibrah) yang bisa kita ambil dari ayat ini untuk perumusan tujuan pendidikan Islam pada anak usia 4-5 tahun adalah sifat umum, “cerdas” atau fathonah dimana suatu saat ketika anak sudah dididik di PAUD Islam dapat menjelaskan karya yang ia buat berupa gambar, masakan, hasil tanam, sampai mampu menjelaskan apa manfaat berbuat baik kepada orangtua, guru dan teman, misalnya. Insya Allaah, semoga Allaah memberi kepahaman kepada kita semua untuk melaksanakan pekerjaan mulia ini.

Selanjutnya, sebaik-baik keterangan dari Al-Quran adalah hadis Rasulullaah Saw, misalnya kita coba analisis kisah dalam hadis berikut.

Rasulullaah Saw berkata kepada Asyajj ‘Abdul Qais:

إن فيك لخلقين يحبهما الله : الحلم والأناة

“Sesungguhnya dalam dirimu ada dua sifat yang Allaah sukai; sifat santun dan tidak tergesa-gesa”

Lalu Asyajj “Abdul Qais berkata:

يا رسول الله , أهما خلقان تخلقت  ما , أم جبلني الله عليهما

“Wahai Rasulullah, Apakah kedua akhlaq tersebut merupakan hasil usahaku, atau Allaah-kah yang telah menetapkan keduanya padaku?”

Beliau menjawab:

بل جبلك الله عليهما

“Allaahlah yang telah mengaruniakan keduanya padamu”.

Kemudian ia berkata:

الحمدللهالذيجبلنيعلىخلقينيحبهماورسوله 

“Segala puji bagi Allah yang telah memberiku dua akhlaq yang dicintai oleh-Nya dan oleh Rasul-Nya”. (HR. Muslim:17 dan 18, Abu Dawud:5225 dan Ahmad Jilid 4:206).

Alhamdulillaah, coba disoroti sifat “santun” dan “tidak tergesa-gesa” sahabat Asyajj ‘Abdul Qais yang dapat dijadikan sebuah tanda akhlak mulia pada anak usia 4-5 tahun.

Kedua, buatlah sebuah gambaran umum tentang profil lulusan PAUD yang terlintas di dalam diri kita, coba tuliskan. Setelah adanya gambaran umum, maka perlu gambaran khusus yang menjadi penjelasannya. Ambilah sifat, ciri, tanda atau karakter yang bisa digunakan sebagai unsur penjelas untuk profil lulusan PAUD yang hendak menampilkan anak didik sebagai pribadi muslim terbaik. Lakukanlah pendistribusian semua unsur penjelas tersebut ke dalam profil lulusan yang dibutuhkan oleh anak didik, orangtua dan ummat. Misalnya kita buat sebagai berikut:

Profil lulusan “PAUD Al-Fatih Indonesia” yang terlintas dalam diri adalah: 1) Anak cerdas; 2) Anak berakhlak mulia dan; 3) Anak shalih. Contoh profil lulusan ini merupakan curahan harapan, proyeksi kebutuhan dan kejelasan gambaran untuk bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti; “PAUD ini tujuan pendidikannya apa?”; “Bagaimanakah gambaran umum anak saya setelah lulus dari sini?”

Ketiga, buatlah penjelasan terhadap aspek-aspek yang telah dituliskan sebagai ciri umum profil lulusan PAUD agar yang umum nampak lebih khusus; yang abstrak menjadi konkrit; yang kompleks menjadi sederhana. Kegiatan ini sangatlah penting, dimana penguraian aspek umum pada profil lulusan akan sangat bermanfaat bagi perumusan kegiatan apa yang akan diselenggarakan untuk mewujudkan tujuan pendidikan tersebut.

Dari contoh sebelumnya sudah ada tiga aspek pada profil lulusan PAUD, yaitu: 1) cerdas; 2) berakhlak mulia; dan 3) shalih. Mari kita lakukan simulasinya.

Cerdas berarti memiliki sifat: fathonah. Anak cerdas butuh ilmu, keterampilan dan pelajaran bersikap baik dan benar. Anak perlu bekal menjadi rabbaniyun; gemar belajar Al-Quran, Hadis, do’a dan pelajaran tambahan yang bermanfaat untuk bekal hidupnya serta untuk ia amalkan untuk keluarga dan ummat. Anak yang cerdas tentu pandai mengenal dan memilih mana yang haq dan mana yang batil. Anak perlu bekal sifat Al-iffah, artinya menjaga diri dari perbuatan batil; perlu ash-shobru juga supaya bisa bertahan menyukai perbuatan baik dan menangkal perbuatan buruk, dst.

Berakhlak mulia berarti memiliki sifat: akhlaqul karimah. Anak yang berakhlak mulia tentu harus mengikuti akhlak Rasulullaah Saw. Anak harus mengenal dan mengamalkan rukun iman dan rukun Islam agar akhlaknya mulia. Anak berakhlak mulia wajib berperilaku sesuai tuntunan Al-Quran seperti halnya Rasulullaah Saw yang ikhlas dalam keadaan susah dan senang, berbuat adil dalam keadaan suka dan marah, gemar shodaqoh dalam keadaan kaya atau miskin, mampu memberi maaf kepada saudaranya yang berbuat buruk padanya, bisa menyambung tali silaturahim kepada orang yang memutuskannya, dst.

Shalih berarti memiliki sifat: shalih atau termasuk golongan orang-orang shaleh. Anak shalih perlu didik dengan melakukan latihan perbuatan baik diantaranya  ya’muruna bil ma’ruf wa yanhauna ‘anil munkar. Anak shalih dapat menolong teman dalam kebaikan belajar; misalnya aktif dalam belajar berkelompok dan mencegah teman dari berbuat keburukan saat belajar; misalnya cegah mencontek. Anak shalih memiliki sifat gemar belajar Al-Quran dan sholat, beriman kepada Allaah, Rasulullah Saw dan hari akhir, serta mengamalkan rukun iman lainnya, dst.

Keempat, membuat ketetapan tujuan pendidikan Islam pada PAUD secara tertulis dengan persetujuan formal semua pihak yang berwenang. Akhirnya buatlah produk berupa; berita acara rapat, surat keputusan, slide profil lulusan PAUD, teks profil lulusan di brosur dan buku. Finalisasi ini sangatlah penting mengingat dokumen berharga dan sosialisasinya yang harus bisa diwujudkan oleh semua pihak terkait.

SARAN

Dengan adanya sebuah kejelasan tujuan pendidikan Islam bagi anak didik kita, seperti yang telah dirumuskan di atas, maka para pendidik muslim dapat menentukan langkah berikutnya guna menjawab urgensi pertanyaan; “Bagaimanakah cara dan langkah untuk mencapai tujuan pendidikan Islam di PAUD ini?”